Rabu, 21 Maret 2012

Kumpulan Puisi

SEBUAH RENUNGAN
KEIKHLASAN
tuk teman seperjuangan.

Keikhlasan sifatnya non material
Rela hati menelusuri kehidupan
Dengan tetesan keringat dan air mata
Dengan pengorbanan sebuah eksistensi diri
Hanya untuk mengubah paradigma semesta

Keikhlasan bagian dari spiritualitas
Sedang spiritualitas tak terukur oleh material
Wajah yang manis menjadi legam
Terkena panasnya terik sang surya
Hanya untuk mengharmonisasikan semesta.

Adakah keikhlasan tersimbolkan
Sedangkan simbol adalah representase makna
Bukankah simbol tuntutan syariat
Dalam upaya menapaki jalan spiritual
Ataukah keikhlasan tersimbolkan dalam bentuk kepanitiaan di LK
Tersimbolkan melalui tetesan keringat peluh tanpa bahasa

Keikhlasan adalah bagian dari spiritualitas
Menemukan spiritualitas melalui keikhlasan memberi
Dan tersingkapnya tabir
Jadikanlah diri milik semesta
Semesta merindukan sentuhan dan belaian tangan kita.

MIMPI DI TAMAN SURGAWI


kini
sudah saatnya aku berhenti
menghitung hari tak bertepi
yang kian menyiksa diri
telah lama kujelajahi padang kenangan
dalam redup sendu cahaya matamu
senyum manismu
kecantikan wajahmu
mengiringkan langkahku menapaki taman surgawi
terukir kenangan bersamamu



kini
telah saatnya aku berhenti
menghitung hari
yang kian menyiksa diri

pada mekarnya mawar
menyimpan duri
pada indahnya taman surgawi
ternyata hanya mimpi
duri itu, kasih
begitu ganas menusuk ke ulu hati
hingga aku sadar diri
semuanya hanya mimpi
sebab tak mungkin kau kumiliki
lambaian tanganmu kasih
kian menoreh luka di hati
selamat tinggal kasih
dan jangan kau kembali

Yogyakarta, 5 Mei 1993


Penantian


kini
sudah saatnya
berhenti menghitung hari
yang tak bertepi
telah lama kutelusuri pasir pantai
kutinggalkan jejakku di sana
kucari bayangmu di batas cakrawala
di atas garis laut
kucari merdu suaramu
di antara debur ombak yang menggulung
pasir pantai, karang, dan debur ombak
saksi penantianku



kini
sudah saatnya berhenti
menghitung hari
yang tak bertepi
telah lelah aku menanti
kuputuskan: biarlah aku sendiri
karna ternyata engkau bukan untukku



kini
sudah saatnya berhenti menghitung hari
kulambaikan tanganku
sambil mendekap dada yang terluka
selamat tinggal sayang
tak kuharap kau kembali



Loksado, Juli 1993
(Dimuat di Banjarmasin Post, 12 Juli 1993)



Puisi-Puisi yang Ditulis pada Tahun 1989-1990
B e l e n g g u


kepada Widuri
getar rasa haru tiap kita bertemu
ciptakan belenggu pada diriku
namun pagar antara kita
jadi sekat tempat kita menetap
senyum dan sapaanku gagal
ketuk pintu hatimu
tatapan mata hanya sia-sia
lambaian tanganku relakan dirimu
kian menjauh menuju bahtera cinta keemasan



"selamat jalan Widuri,
semoga tak kembali lagi."
biarkan aku terus mengembara
mengakrabi tiap jengkal tanah sepi.



Yogya, Maret 1989


Doa Malam


gelap langit malam
berikan keheningan dan diam
dalam diam
kutengok bintang khusuk sembahyang
dalam keheningan
kupacu hasratku sujud pada-Mu
nyalakan lampu dalam jiwaku
agar aku tahu
segala keangkuhan adalah kebinasaan cinta
dan segala cinta
hanya bermuara pada-Mu



Yogya, 1988

pesan buat sahabat

saat kita di tengah masa
kita erat berjabat
berdua lewati titian semu
menuju terang mentari jauh di depan
gelak tawa dan tangis bertukar
kita siapa?
bukan saudara!
mari sobat kita berjabat
ucapkan selamat tinggal
jalan simpang sudah dekat
lambaikan tangan sebab mentari
kita berbeda.

Yogya, 1987

Insaf

dijemput kuda berpelana putih
lewati jalan setapak menuju langit
pengembaraan panjang
pasti kita alami
karna itu jangan dekatkan aku lagi
pada kubangan lumpur
beningkan telagaku
tenggelamkan wajahku
sedalam rasa.
Yogya, 1987


T O B A T


Tangan ini terlalu lapuk
buat mendekap kasih-Mu
Dada ini terlalu sempit
buat merangkum kebesaran-Mu

Dengan kaki rapuh menyangga tubuh berlumpur
melangkah tertatih
melintasi rimba perasaan sunyi
meniti jembatan naluri.

Di depan pintu-Mu
aku terkapar
Menatap nur-Mu
yang memancar dari ayat-ayat-Mu

Berderit hatiku, terkuak perlahan
Sujud dan menangis memohon ampunan-Mu.



September 1985

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar