Jumat, 02 Maret 2012

Tari Rangguk

TARIAN DAERAH JAMBI
Rangguk

Tari Rangguk



Tari Rangguk merupakan tarian tradisional Kabupaten KerinciTari Rangguk sendiri berasal dari Dusun Cupak Kerinci yang dibawa oleh seorang ulama. Keunikan tarian ini adalah mengandung unsur ajaran Islam yang dipadukan antara Tarian Silat Melayu dengan alat musik rebana. 





Menurut sejarahnya, masyarakat Kerinci telah mengenal Tari Rangguk sejak dulu. Di Jambi, tarian ini diyakini muncul atas ide dari seorang ulama dari Dusun Cupak, Kabupaten Kerinci. Konon, sekitar abad ke-19, ulama itu menunaikan ibadah haji. Ketika berada di tanah suci Mekkah, ulama itu menyempatkan untuk belajar ilmu agama dan kesenian tradisional dari Arab yakni menabuh rebana sambil menganggukkan kepala.

Setelah kembali ke kampung halamannya, ulama itu berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kerinci. Untuk menarik perhatian masyarakat, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah.

Usaha itu menuai hasil, masyarakat Kerinci lambat laun mulai tertarik untuk belajar agama Islam. Mereka juga belajar memainkan rebana dan melantunkan pujian kepada Allah sambil menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, ulama itu meninggal dunia. Meskipun ulama itu telah tiada, masyarakat Kerinci tetap menyebarkan ajaran agama Islam dan berdakwah hingga ke seluruh daerah di Kabupaten Kerinci. Dalam perkembangannya, gerakan anggukan kepala yang dimainkan mengikuti lantunan musik rebana ini kemudian dikenal dengan nama Tari Rangguk.

Awalnya, Tari Rangguk hanya dijadikan media syiar agama Islam. Kini, Rangguk juga dimainkan sebagai pertunjukan hiburan. Biasanya, tarian ini dimainkan ketika Kabupaten Kerinci menyelenggarakan Festival Danau Kerinci, tari ini dimainkan. Jika dimainkan untuk pertunjukan hiburan, penari Rangguk me mainkan gerakan anggukan kepala sambil menabuh rebana dengan posisi duduk melingkar. Namun jika tarian ini dimainkan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan, penari Rangguk menabuh rebana dengan posisi berdiri. Sesekali, mereka juga memainkan gerakan tangan mengikuti lantunan musik rebana dan pujian kepada Allah. Gerakan utama yakni anggukan kepala dimainkan sebagai simbol ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan.
Tidak terlepas dari tujuan awal yakni syiar agama, nuansa Islam begitu terasa ketika Tari Rangguk dimainkan. 

Selama pertunjukan berlangsung, tarian ini dimainkan oleh 5 hingga 10 orang pemain yang mengenakan pakaian serba tertutup. Untuk pemain lelaki, mereka mengenakan pakaian lengan panjang sebagai atasan dan celana panjang sebagai bawahan. Sementara pemain perempuan mengenakan baju lengan panjang sebagai atasan dan kain panjang sebagai bawahan. Tidak ketinggalan, penari perempuan me ngenakan kerudung dari kain sebagai penutup kepala. 

Nilai filosofis tarian Rangguk tercipta pada gerakan tubuh seirama dengan pantun, menyelaraskan berbagai makhluk hidup di bumi ini. Tarian ini juga mengandung unsur religius, agar setiap manusia selalu bersyukur dan menambah ketakwaannya kepada Allah SWT. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar